oleh

Prof. Dr. Hafid Abbas: Ikhlas Menghadapi Kesulitan Membawa Kita Pada Impian yang Melebihi Ekspektasi

“Ikhlas menghadapi sebuah kesulitan yang maha berat, tetap bertahan dan berdiri tegak, secara tidak langsung akan membawa kita menyeberangi sesuatu yang melebihi impian kita.”

Pesan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hafid Abbas saat dikunjungi tim redaksi Kliksaja.co ditengah-tengah kesibukan beliau sebagai Ketua Senat UNJ di Gedung Syafii Universitas Negeri Jakarta, Rabu (08/05/2022).

Kata-kata bijak ini lahir dari pengalaman hidup Prof. Dr. Hafid Abbas sendiri dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam perjalanan hidupnya, terutama ketika diberikan amanah untuk membangun konsep-konsep tentang Hak Asasi Manusia (HAM) tahun 2000 – 2006 di Indonesia yang sebelumnya sangat sulit didapatkan pada zaman Orde Baru.

Dalam membangun konsepsi Hak Asasi Manusia yang relatif baru saat itu, dan kurang mendapat support yang signifikan dalam berbagai aspeknya, pernah terbersit dalam benak beliau untuk kembali lagi ke kampus UNJ, tempat Prof. Hafid Abbas sebelumnya mengajar. Namun di tengah kesulitan yang menerpa, beliau bangkit dan melakukan terobosan-terobosan baru dalam membangun konsep pendidikan Hak Asasi Manusia di Indonesia sampai pada akhirnya beliau mencapai puncak kesuksesan karirnya di masa-masa berikutnya.

Beliau diberi amanah menjadi President of the South East Asia National Human Rights Forum (SEANF), diangkat menjadi Visiting Porfessor/Speaker oleh berbagai kampus Dunia yang sangat bergengsi seperti Harvard University, USA, University of Connectitut, University of Oslo, University of Melbourne, dan lain-lain. Selain itu, beliau juga menjadi Adviser dalam bidang pendidikan HAM pada Academy of Social Sciences, Hanoi, Vietnam, konsultan internasional dalam Literacy Project dan masih banyak jabatan bergengsi lainnya yang beliau emban.

Dari berbagai terobosan-terobosan yang dilakukannya tersebut, tak aneh jika Robert A Evans, Advisor on Comission of Truth and Friendship of Indonesia and Timor Leste, pernah menjuluki Prof. Dr. Hafid Abbas sebagai “the architect of one of the most extensive education action plan in human rights anywhere in  the world.”

Tak hanya itu, dalam pertemuan dengan redaktur Kliksaja, Prof. Dr. Hafid Abbas juga menyampaikan bahwa gagasan pendidikan Hak Asasi Manusia yang dikembangkannya saat itu sangat terinspirasi dari tokoh-tokoh asli Indonesia.

Misalnya kekaguman Prof. Dr. Hafid pada sosok Nelson Mandela, Bapak Perdamaian Dunia yang sering dikutipnya dalam berbagai tulisan-tulisannya, sebenarnya bukan berangkat dari Nelson Mandela sendiri tapi justru pada tokoh-tokoh Indonesia yang sangat dikagumi Nelson Mandela.

Prof. Dr. Hafid mengaku dekat dengan Bapak Perdamaian Dunia ini dan bahkan pernah menjadi Promotornya untuk mendapatkan gelar doctor kehormatan di UNHAS.

Menurut Prof. Hafid, ada empat tokoh Indonesia yang sangat dikagumi dan diberi tempat khusus di Afrika Selatan karena perjuangan mereka melawan penindasan. Pertama, Sultan Tidore; kedua, Syekh Yusuf Makassar; ketiga, Djayadiningrat IV, dan keempat, Sultan Madura. “Kekaguman Nelson Mandela kepada empat tokoh ini membuatnya suka sekali mengenakan batik,” jelas Prof. Hafid kepada tim redaksi Kliksaja (08/06/2022).

“Namun, meski dinobatkan sebagai Bapak Perdamaian Dunia, Nelson Mandela menyebut empat tokoh sebagai tokoh yang lebih hebat dibandingkan dirinya,” lanjut Prof. Hafid.

Menurut Prof. Dr. Hafid Abbas, setidaknya ada empat alasan yang membuat Nelson Mandela sangat kagum pada empat tokoh Indonesia tersebut: Pertama, empat tokoh ini, kata Prof Hafid, berjuang dan melawan Apartheid hingga mengorbankan jiwa raganya di Afrika Selatan. Kedua, empat tokoh ini tak hanya memperjuangkan kemanusiaan di tanah kelahiran mereka, mereka memperjuangkan kemanusiaan di Afrika Selatan.

“Syekh Yusuf Makassar itu dikenal sebagai Tuan Guru di Afrika Selatan. Dia berjuang dengan nilai-nilai kemanusiaan bukan di tempat kelahirannya,” kata Prof. Hafid yang mendengarkan sendiri dari Nelson Mandela.

Alasan ketiga yang membuat Nelson Mandela mengatakan bahwa empat tokoh tersebut lebih hebat dari dirinya ialah karena empat tokoh itu berjuang bersama orang yang mereka tak kenal dan bahkan jauh dari tradisi mereka sendiri.

Dan terakhir, keempat, mengutip Nelson Mandela, Prof. Hafid mengatakan bahwa para tokoh itu tidak sempat merasakan hasil dari apa yang mereka perjuangkan selama hidupnya sementara Mandela bisa saja mendapatkan penghargaan selama masa hidupnya. “Inilah yang membuat Mandela kagum terhadap para tokoh Indonesia tersebut,” ujar Prof Hafid.

Berangkat dari perjuangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan seperti yang dicontohkan Mandela yang terinspirasi dari empat tokoh Indonesia, Prof. Hafid menegaskan kembali untuk tetap tegar, sabar dan tidak cengeng dalam menghadapi berbagai macam problem kehidupan. “Dalam menghadapi persoalan sesulit apa pun, kita tidak boleh cengeng, bayangkan saat itu jika saya cengeng menghadapi persoalan yang ada saat mengurus HAM di Indonesia, saya mungkin tidak memiliki pencapaian-pencapaian yang signifikan dalam hidup saya seperti saat ini,” jelas Prof. Hafid.

Selain berpesan untuk tidak cengeng menghadapi persoalan-persoalan yang menghimpit kehidupan, lalu bersikap sabar atasnya, selalu bersyukur dan menjadi pemaaf, Prof. Hafid juga berpesan untuk selalu membiasakan diri menulis karya-karya. Berkaca dari pengalaman hidupnya, Prof. Hafid menyampaikan bahwa pencapaian-pencapaian hidup yang didapatkannya tidak lepas dari ide-ide yang dituliskannya. “Jadi menulis itu penting,” tegas Prof. Hafid.

“Mereka mengenal saya dan membuat saya dipercaya itu dari tulisan-tulisan yang saya buat, jadi produktiflah menulis dan hargailah tulisan kita. Saya sangat terinsipirasi dari Imam al-Ghazali dalam menghargai tulisan. Beliau selalu berdoa sebelum menulis agar tulisan-tulisannya masuk ke hati orang, dan berpengaruh bagi kehidupan orang banyak dan ketika menulis, beliau selalu menggunakan pakaian yang bagus untuk menghargai ilmu yang ditulisnya,” tandas Prof. Dr. Hafid Abbas mengakhiri pertemuan dengan tim redaksi kliksaja.co.